good evening guysss... kali ini saya akan share makalah tentang salep mata ......
JURNAL PRAKTIKUM
FORMULASI TEKNOLOGI SEDIAAN STERIL
“
SALEP MATA“
Untuk menempuh sebagian persyaratan
dalam menempuh Mata Kuliah Formulasi
Teknologi Sediaan Solid
yang dibina oleh Fandi
Satria, S.Farm., Apt.
Oleh :
1. M.Taufik NIM : 11.060
2. Maretta
Wulansari NIM : 11.062
3.
Maria N. H. Toji NIM : 11.065
4.
Merlinda Lestari NIM : 11.070
5.
M. Zarkasi NIM : 11.076
6.
Novita Ardianti NIM : 11.079
7.
Nurul Utrujah NIM : 11.081
8.
Ravelya Samponu NIM : 11.085
9.
Rozy Yudita NIM : 11.093
10.
Siti Ria Khoiria NIM : 11.100
11.
Titis Dessy A NIM : 11.105
12.
Wahid Hasym A NIM : 11.107
13.
Yuliandari NIM : 11.111
14.
Deanistin NIM : 0920
AKADEMI FARMASI PUTRA
INDONESIA MALANG
November 2013
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tuhan menciptakan
manusia begitu sempurna, dimana Tuhan menciptakan banyak organ yang sangat
dibutuhkan oleh manusia, misalnya mata untuk melihat, hidung untuk mencium,
otak untuk berfikir, tangan dan kaki untuk beraktifitas, dan masih banyak organ
tubuh lain yang banyak manfaatnya. Salah satu organ penting bagi tubuh adalah
mata, dimana mata ini banyak manfaatnya, mata adalah organ penglihatan yang
mendeteksi cahaya. Mata melakukan
hal yang paling sederhana dimana mata mengetahui apakah lingkungan sekitarnya
terang atau gelap. Mata yang lebih kompleks dipergunakan untuk memberikan
pengertian visual. Hal ini terkadang
membuat mata menjadi sering terinfeksi.
Mata juga mudah
terinfeksi bakteri, Infeksi pada mata dapat terjadi karena disebabkan oleh
virus, bakteri, jamur, ataupun parasit. Infeksi yang ditimbulkan bisa dapat
mengenai seluruh bagian mata, mulai dari kelopak mata sampai pada lensa mata
itu sendiri. Infeksi pada mata bisa membuat mata menadi merah, dan bisa juga
membuat penglihatan menjadi kabur. Jika terjadi hingga penglihatan menjadi
kabur, mungkin ini bisa terjadi karena infeksi pada refraksi mata, seperti pada
lensa dan kornea. Sedangkan, pada penglihatan yang normal, infeksi terjadi pada
struktur sekitar mata. karena mata adalah organ
yang sangat sensitif.
Mata yang sensitif ini membuat kita harus diperlukan
perawatan dan sediaan yang khusus atau steril untuk pengobatan dan perawatan
pada proses penyembuhan mata tersebut. Salah satu penyakit yang menyerang mata
saat ini adalah iritasi
mata yang disebabkan debu, debu ini bisa disebabkam oleh bakteri yang ada
dijalan maupundiruangan, maka dari diperlukan membuat sediaan
salep mata kloramfenikol yaitu digunakan
sebagai terapi antibakterial broad-spectrum yang diberikan secara
topikal.
Sediaan salep mata dibuat sediaan steril
karena kornea dan cairan bening ruang anterior adalah media yang bagus untuk
pertumbuhan mikroorganisme dan masuknya larutan mata yang telah terkontaminasi.
Sediaan salep mata ini dibuat juga karena waktu
kontak dengan mata lebih lama sehingga bioavailabilitas obat lebih besar,
selain itu kloramfenikol ditujukan untuk penggunaan blepharitis yaitu
radang pada kelopak mata, jadi harus dibuat sediaan salep karena berkerja pada
kelopak mata, kelenjar sebaseus, konjungtiva, kornea dan iris.
1.2 Tujuan
1.
Dapat membuat sediaan salep mata
dengan bahan aktif kloramfenikol sesuai dengan persyaratan sediaan sterile.
2.
Dapat mengevaluasi sediaan salep
mata dengan bahan aktif kloramfenikol yang sesuai dengan persyaratan sediaan
sterile.
3.
Dapat meningkatkan
pengetahuan tentang sediaan steril
4.
Dapat mengetahui perlakuan
khusus dan komponen-komponen yang terkait pada sediaan steril
1.3 Manfaat
1)
Mahasiswa mampu membuat sediaan
steril dan menerapkan peraturan-peraturan yang ada sesuai pedoman pustaka.
2)
Dapat memproduksi dan memasarkan
hasil sediaan kepada masyarakat sehingga dapat memperoleh keuntungan
BAB II
Tinjauan Pustaka
2.1 Tinjauan Tentang Salep
2.1.1 Definisi
Ø Menurut Anonim, 1995, hal : 12
Salep mata adalah salep yang digunakan pada mata. Pada pembuatan salep mata harus diberikan perhatian khusus. Sediaan dibuat dari bahan yang sudah disterilkan dengan perlakuan aseptik yang ketat serta memenuhi syarat uji sterilitas
Salep mata adalah salep yang digunakan pada mata. Pada pembuatan salep mata harus diberikan perhatian khusus. Sediaan dibuat dari bahan yang sudah disterilkan dengan perlakuan aseptik yang ketat serta memenuhi syarat uji sterilitas
Ø Menurut Anief, 2000 hal 110.
Salep adalah sediaan setengah padat yang mudah
dioleskan dan digunakan sebagai obat luar. Bahan obatnya harus larut atau
terdispersi homogen dalam dasar salep yang cocok
Ø Menurut kelompok kami
Salep mata adalah
sediaan steril yang mengandung bahan kimia steril yang terbagi halus dalam
basis, yang dibuat di bawah kondisi aseptik , digunakan pada mata untuk
memberikan efek pengobatan dengan cara kontak dengan mata dan jaringan tanpa
tercuci oleh air mata, di mana tempat kerjanya pada bagian luar tepi kelopak mata,
konjungtiva, kornea, dan iris, serta memerlukan perhatian khusus dalam
pembuatannya
Obat biasanya dipakai untuk mata
untuk maksud efek lokal pada pengobatan bagian permukaan mata atau pada bagian
dalamnya. Yang paling sering digunakan adalah larutan dalam air, tapi bisa juga
dalam bentuk suspensi, cairan bukan air dan salep mata.
Tujuan : 1. Untuk mengetahui formulasi
salep mata
2. Untuk mengetahui dan mempraktekkan pembuatan salep mata
3. Untuk mengetahui evaluasi sediaan salep mata
2.1.2 Syarat Sediaan Salep
1.
Sediaan salep mata harus Steril.
2.
Memiliki pH sesuai bahan aktif.
3.
Harus homogen.
4.
Dibuat dari
bahan-bahan yang disterilkan di bawah kondisi aseptik.
5.
Sterilitas
akhir dari salep dalam tube dengan radiasi gamma.
6.
Mengandung
bahan untuk mencegah pertumbuhan mikroorganisme yang berbahaya contohnya penambahan pengawet.
7.
Bebas dari
partikel kasar dan
partikel logam.
8.
Basis yang
digunakan tidak mengiritasi mata.
9.
Sediaan mampu mempertahankan
aktivitas obat pada jangka waktu tertentu selama penyimpanan.
10.
Bebas pirogen.
11.
Dapat menyebar dengan rata.
12.
Terdapat penandaan penggunaan sediaan.
2.1.3 Keuntungan
Dan Kerugian
Keuntungan :
1.
Dapat memberikan bioavaibilitas lebih
besar
2. Wadah yang terbuat dari tube meminimalkan obat kontak dengan
sesuatu yang menjadi penyebab adanya cemaran mikroba
3. Sifat salep dapat menyerap air dan berbasis
larut dalam air
4. Tidak perlu preparat atau alat bantu
yang banyak.
5.
Waktu
kontak yang lebih lama sehingga jumlah obat yang diabsorbsi lebih tinggi.
Kerugian :
1.
Dapat
menggangu pengelihatan, kecuali jika digunakan saat akan tidur
- Masa kadaluarsa yang sangat singkat
- Stabilitas tergangu karena penyimpanan salep mata yang tidak tepat
- Salep mata tidak bisa sepenuhnya dikeluarkan di dalam tube
- Onset dan waktu absorpsi yang lama
2.1.4 Penggolongan Selep
Ø Menurut
konsistensinya salep dibagi menjadi :
v
Unguenta : salep yang mempunyai
konsistensi seperti mentega. Tidak mencair pada suhu kamar tetapi mudah dioleskan
tanpa tenaga.
v
Cream : salep yang mengandung air, mudah diserap kulit, dapat dicuci
dengan air.
v
Pasta : salep yang mengandung lebih dari 50% zat padat (serbuk).
v
Cerata : salep berlemak yang mengadung prosentase lilin yang tinggi,
sehingga konsistensinya lebih keras.
Ø Menurut efek
terapinya, salep dibagi menjadi :
v
Salep epidermik (salep penutup)
Digunakan pada
permukaan kulit yang berfungsi hanya untuk melindungi kulit dan menghasilkan efek local, karena bahan obat tidak
diabsorbsi. Dasar salep yang yang terbaik adalah senyawa hidrokarbon, seperti
vaselin.
v
Salep endodermik
Salep dimana bahan
obatnya menembus ke dalam tetapi tidak melalui kulit dan terabsorbsi sebagian.
Dasar salep yang baik adalah minyak lemak, seperti adeps lanae.
v
Salep diadermik (salep serap)
Salep dimana bahan
obatnya menembus ke dalam melalui kulit dan mencapai efek yang diinginkan
karena diabsorbsi seluruhnya. Dasar salep yang baik adalah adeps lanae dan
oleum cacao.
Ø Menurut dasar
salepnya, salep dibagi menjadi :
v
Salep hidrofobik
Salep-salep dengan
bahan dasar lemak, misalnya : campuran dari lemak-lemak, minyak lemak, malam
yang tak tercuci dengan air.
v
Salep hidrofilik
Salep yang kuat
menarik menarik air, biasanya dasar salpe tipe minyak dalam air seperti dasar
hidrofobik tetapi konsistensinya lebih lembek, kemungkinan juga tipe minyak
dalam air antara lain campuran sterol dan petrolatum.
2.1.5
Basis salep mata
Dasar salep pilihan
untuk salep mata harus tidak mengiritasi mata dan harus memungkinkan difusi
bahan obat ke seluruh mata yang dibasahi karena sekresi cairan mata. Dasar
salep mata yang digunakan juga harus bertitik lebur yang mendakati suhu tubuh.
Dalam beberapa hal campuran dari petroletum dan cairan petrolatum (minyak
mineral) dimanfaatkan sebagai dasar salep mata. Kadang-kadang zat yang
bercampur dengan air seprti lanolin ditambahkan kedalamnya. Hal in memungkinkan
air dan obat yang tidak larut dalam air bartahan selama sistempenyampaian. Oculenta, sebagai bahan dasar salep mata sering mengandung
vaselin, dasar absorpsi atau dasar salep larut air. Semua bahan yang dipakai
untuk salep mata harus halus, tidak enak dalam mata. Salep mata terutama untuk
mata yang luka. Harus steril dan diperlukan syarat-syarat yang lebih teliti
maka harus dibuat saksama.
Syarat oculenta adalah :
1.
Tidak boleh mengandung
bagian-bagian kasar.
2.
Dasar salep tidak boleh
merangsang mata dan harus memberi kemungkinan obat tersebar dengan perantaraan
air mata.
3.
Obat harus tetap berkhasiat
selama penyimpanan.
4. Salep mata harus steril dan disimpan dalam tube yang steril (Anief, 2000, hal: 117).
4. Salep mata harus steril dan disimpan dalam tube yang steril (Anief, 2000, hal: 117).
2.1.5
Bahan – bahan
membuatan salep mata.
Bahan tambahan yang ditambahkan ke dalam dasar salap mata
berbentuk larutan atau serbuk halus. Salap mata harus bebas dari partikel kasar
dan harus memenuhi syarat kebocoran dan partikel logam pada uji salep mata .
Wadah (kontener) untuk salep mata harus dalam keadaan steril pada waktu
pengisian dan penutupan serta harus tertutup rapat dan disegel untuk menjamin
sterilitas pada penggunaan pertama obat. Dasar salap mata
yang dipilih tidak mengiritasi mata, memungkinkan difusi obat dalam caitan
mata, dan tetap dapat memperthankan aktivitas obat dalam jangka waktu tertentu
pada kondisi penyimpanan yang tepat (usia) guna. Vaselin merupakan dasar salap
mata yang banyak digunakan. Beberapa bahan dasar salap dapat menyerap air,
bahan dasar yang mudah dicuci dengan air, dan bahan seperti ini memungkinkan
dispersi oabt larut secara lebih baik, tetapi tidak boleh menyebabkan iritasi
pada mata. Zat obat yang ditambahkan ke dalam dasar salep, apakah dalam bentuk
larutan atau dalam bentuk serbuk yang dibuat halus sekali sampai ukuran mikron.
Lalu obat dicampur sampai sempurna dengan dasar salap biasanya memakai
penggiling. Setelah pembuatan
salep mata ini diisikan ke dalam tube yang terbuat dari plastik
atau timah dimana sebelumnya telah dibuat steril. Tube – tube ini khas kecil,
yang isinya kurang lebih 3,5 gram salap dan dikocokkan dengan ujungnya berliku
sempit yang memungkinkan lompatan segumpal kecil salep. Hal ini sesuai untuk
menempatkan salap pada garis tepi kelopak mata. Suatu tempat yang biasa dalam
pemakaian obat. Hal ini harus dikerjakan tanpa menyentuh mata.
2.1.6
Metode Pembuatan
v Bahan obat yang larut
air dilarutkan dengan sejumlah kecil aqua pro injeksi, larutan dicampur dengan
basis yang telah dilelehkan dan campuran di aduk terus menerus hingga kental.
v Bahan obat yang
tidak larut, harus dihaluskan bahannya hingga benar-benar halus dan cara digerus, kemudian dimasukan kedalam sejumlah kecil dari basis,
kemudian di aduk hingga homogen dan ditambahkan sedikit demi sedikit sisa basis
aduk hinga homogen. Pengerjaan dilakukan seaseptik mungkin.
2.1.7 Beberapa Hal yang Perlu
Diperhatikan dalam Menyediakan Sediaan Salep Mata
1.
Sediaan dibuat dari bahan yang
sudah disterilkan dengan perlakuan aseptik yang ketat serta memenuhi syarat uji
sterilitas. Bila bahan tertentu yang digunakan dalam formulasi tidak dapat
disterilkan dengan cara biasa, maka dapat digunakan bahan yang memenuhi syarat
uji sterilitas dengan pembuatan secara aseptik. Salep mata harus memenuhi
persyaratan uji sterilitas. Sterilitas akhir salep mata dalam tube biasanya
dilakukan dengan radiasi sinar γ. (Remingthon pharmauceutical hal. 1585).
2.
Kemungkinan kontaminasi mikroba
dapat dikurangi dengan melakukan pembuatan uji dibawah LAF.
3.
Salep mata harus mengandung bahan
atau campuran bahan yang sesuai untuk mencegah pertumbuhan atau memusnahkan
mikroba yang mungkin masuk secar tidak sengaja bila wadah dibuka pada waktu
penggunaan. Kecuali dinyatakan lain dalam monografi atau formulanya sendiri
sudah bersifat bakteriostatik (lihat bahan tambahan seperti yang terdapat pada
uji salep mata
Zat anti mikroba yang dapat
digunakan :
a.
Klorbutanol dengan konsentrasi
0.5 % (Pharmaceutical exipient, 2006)
b.
Paraben
c.
Benzalkonium klorida dengan
konsentrasi 0,01 – 0,02 % (Salvatore Turco et al, 1974).
4.
Wadah salep mata harus dalam
keadaan steril pada waktu pengisian dan penutupan. Wadah salep mata harus tertutup
rapat dan disegel untuk menjamin sterilitas pada pemakaian pertama.Wadah salep
mata kebanyakan menggunakan tube, tube dengan rendahnya luas permukaan jalan
keluarnya menjamin penekanan kontaminasi selama pemakaianya sampai tingkat yang
minimum. Secara bersamaan juga memberikan perlindungan tehadap cahaya yang
baik. Pada tube yang terbuat dari seng, sering terjadi beberapa peristiwa tak
tersatukan. Sebagai contoh dari peristiwa tak tersatukan telah dibuktikan oleh
garam perak dan garam airaksa, lidocain (korosi) dan sediaan skopolamoin yang
mengandung air (warna hitam). Oleh karena itu akan menguntungkan jika
menggunakan tube yang sebagian dalamnya dilapisi lak.
Pada pembuatan tube yang tidak tepat harus diperhitungkan adanya serpihan – serpihan logam. Waktu penyimpanan tidak hanya tergantung dari stabilitas kimia bahan obat yang digabungkan, tetapi juga dari kemungkinan terjadinya pertumbuhan partikel dalam interval waktu tertentu mutlak diperlukan. Jadi dalam setiap hal, selalu diutamakan pembuatan salep mata secara segar.
Pada pembuatan tube yang tidak tepat harus diperhitungkan adanya serpihan – serpihan logam. Waktu penyimpanan tidak hanya tergantung dari stabilitas kimia bahan obat yang digabungkan, tetapi juga dari kemungkinan terjadinya pertumbuhan partikel dalam interval waktu tertentu mutlak diperlukan. Jadi dalam setiap hal, selalu diutamakan pembuatan salep mata secara segar.
2.2 Evaluasi Sediaan
Ø Kemasan
Tujuan : untuk mengetahui apakah
bahan – bahan pada salep mata yang dibuat saling berinteraksi atau tidak. Wadah dan penutup
wadah salap mata tidak boleh berinteraksi, baik secara kimia maupun fisika dengan sediaan salap
Ø Uji pH
Tujuan : untuk mengetahui pH pada salep mata sesuai apa tidak agar tidak
terjadi iritasi
Prosedur
1. Dioleskan salap mata pada kertas pH
2. Diamati dan dicocokkan dengan warna pH pada kemasan
Ø Uji kebocoran
Tujuan : untuk mengetahui apakah sediaan steril yang dibuat ada
kebocoran atau tidak
Prosedur :
a. Pilih 10 tube salep mata, dengan
segel khusus jika disebutkan. Bersihkan dan keringkan baik – baik permukaan
luar tube dengan kain penyerap.
b. Letakkan tube pada posisi horizontal
di atas lembaran kertas penyerap dalm oven dengan suhu yang diatur pada 60 °C ±
3 °C selama 8 jam.
Syarat :
Tidak boleh terjadi kebocoran yang berarti selama atau setelah pengujian selesai
Ø Uji homogenitas
Tujuan : untuk mengetahui sediaan itu homogen apa tidak
Prosedur
a. Dioleskan salap mata pada kaca objek
b. Diamati ada tidaknya partikel kasar
Ø Uji daya sebar
Tujuan : untuk mengetahui daya sebar dari sediaan yang dibuat
Prosedur
a. Ditimbang 0,5 gram salap mata
b. Diletakkan hati-hati diatas kertas
grafik yang dilapisi plastic transparan
c. Dibiarkan 60 detik dan luas daerah
yang diberikan oleh sediaan dihitung kemudian ditutup lagi dengan plastik yang
diberi beban tertentu masing-masing 50 gram, 100 g, dan 150 g
d. Dibiarkan selama 60 detik pertambahan luas yang diberikan oleh
sediaan dapat dihitung
Ø Uji daya lekat
Tujuan : untuk mengetahui daya lekat salep mata
Prosedur
• Diletakkan sediaan salap mata pada 2
kaca objek yang telah ditentukan
• Ditekan dengan beban 1 kg selama 5
menit
• Dipasang alat test beban, diberikan
beban 80 gram dan kemudian dicatat waktu pelepasan dari gelas objek.
Ø Uji viskositas
Tujuan : menguji kekentalan pada sediaan steril salep mata
Prosedur kerja menggunakan alat viskometer ostwold dan Viskometer
Ubbelohde
2.3 Praformulasi dan Formulasi
Sediaan Salep Mata
Ø Praformulasi Sediaan salep mata
Praformulasi sangat penting
dilakukan dalam setiap pengembangan sediaan farmasi karena meliputi penelitian
farmasetik dan analitik bahan obat untuk menunjang proses pengembangan
formulasi.
Sifat suatu sediaan dapat
mempengaruhi secara bermakna kecepatan onset efek terapi dari suatu obat,
lamanya efek tersebut, dan bentuk pola absorbsi yang dicapai. Oleh karena itu
pengembangan praformulasi dan formulasi untuk suatu produk steril harus
diintregasikan secara hati – hati dengan pemberian yang dimaksud pada seorang
pasien.
Sifat kimia dan fisika suatu obat
harus ditentukan, interaksinya dengan tiap bahan yang diinginkan harus dikaji,
dan efek dari masing - masing tahap kestabilannya harus diselidiki dan
dimengerti.
Semua komponen harus memiliki
kualitas yang sangat baik. Kontaminasi fisika dan kimia tidak hanya menyebabkan
iritasi kejaringan tubuh, tetapi jumlah kontaminasi yang sangat kecil tersebut
juga dapat menyebabkan degradasi produk sebagai hasil dari perubahan kimia,
khususnya selama waktu pemanasan bila digunakan sterilisasi panas.
Untuk memformulasikan
suatu sediaan dengan baik, perlu diperhatikan sifat dari bahan-bahan yang akan
digunakan baik dari segi sifat kimia maupun sifat fisika dari masing-masing
bahan yang akan digunakan. Dengan mengetahui sifat kimia maupun sifat fisika
dari bahan-bahan tersebut, maka diharapkan akan dapat mengetahui bagaimana
interaksi anatara bahan yang satu dengan yang lainnya.
Adapun
parameter-parameter yang perlu diperhatikan yaitu:
1. Parameter
fisiologi
Komponen yang
menunjang fisiologi organ mata dapat
diberikan dalam bentuk sediaan salep mata, hal ini karena sediaan salep mata
dapat memberikan absorbsi yang lama pada mata sehingga proses penyembuhan akan
cepat tercapai efeknya.
.
2. Faktor
fisikokimia
a. Organoleptis
Uji organoleptik berfungsi untuk menilai mutu bahan mentah yang digunakan untuk
pengolahan dan formula yang digunakan untuk menghasilkan produk. Selain itu,
dengan adanya uji organoleptik, produsen dapat mengendalikan proses produksi dengan menjaga konsistensi mutu dan menetapkan
standar tingkat atau kelas-kelas mutu.
b.
Kelarutan
Semua sifat fisika atau kimia bahan aktif langsung
atau tidak langsung akan dipengaruhi oleh kelarutan. Dalam larutan ideal,
kelarutan bergantung pada suhu lebur. Hubungan dengan pembuatan sediaan
salep mata yaitu sediaan harus larut dalam pembawanya sehingga ketika sediaan
tersebut di digunakan efek terapinya bisa tercapai dengan cepat.
c. Ph
pH pada salep mata harus sama atau mendekati dengan pH mata. Isohidris yaitu pH larutan sama dengan pH darah. Kalau bisa pH sama
dengan pH darah, tapi tidak selalu, tergantung pada stabilitas obat.
pH yang baik adalah
kapasitas dapar yang dimilikinya memungkinkan penyimpanan lama dan darah dapat
menyesuaikan diri serta pH ideal = 7,4 sesuai pH darah. Bila pH > 9 terjadi
nekrosis pada jaringan dan bila pH < 3 sangat sakit waktu disuntikkan.
(pH harus
disesuaikan dengan bahan aktif bukan disesuaikan dengan pH tubuh karena adanya
toleransi jika pH tersebut masi dalam rentan tidak terlalu jauh tetapi jika pH
disesuaikan dengan tubuh maka akan merusak bahan aktif tersebut sehingga tidak
memberikan efek terapi yang yg maksimal)
d. Ukuran
partikel
Salah
satu persyaratan sediaan salep mata adalah jika berupa larutan harus larut
sempurna. Harus jernih yang berarti tidak ada partikel padat, kecuali yang
berbentuk suspensi. Bila berupa emulsi, partikel tidak boleh lebih besar dari
0,5 μm.
Pemberian injeksi berupa suspensi ataupun emulsi boleh diberikan dengan alasan
pemberian dalam volume yang kecil / sedikit.
e. Viskositas
Dalam sediaan injeksi, viskositas
sangat berpengaruh karena jika sediaan salep mata terlalu kental maka akan
susah diguanakan.
f. Cahaya
dan suhu
Cahaya dan suhu erat
hubungannya dengan tampat/wadah penyimpanan obat/bahan obat. Cahaya dan suhu dapat mempengaruhi kestabilan obat sehingga dalam hal penyimpanan obat sangat perlu sekali
diperhatikan karakteristik dari obat/bahan obat yang akan disimpan. Contoh vitamin C
harus disimpan dalam
wadah terlindung cahaya.
Ø Monografi Bahan
1. Kloramfenikol
BM : 323.1
Pemerian : Hablur halus berbentuk jarum atau lempeng
memanjang; putih hingga putih kelabu atau putih kekuningan;larutan prktis
netral terhadap kertas lakmus P; stabil dalam larutan netral atau larutan agak
asam.
Kelarutan :
Sukar larut dalam air; mudah larut dalam etanol, dalam propilenglikol, dalam
aseton dan dalam etil asetat.
Jarak Lebur :
149º C - 153ºC
pH : antara 4,5 - 7,5; lakukan penetapan
menggunakan suspensi dalam air 25 mg per ml.
Penyimpanan : Dalam wadah
tertutup rapat (kedap udara). Simpan pada temperatur tidak lebih dari 40 0C
Dosis : Salep mata à 3 -4 x sehari,
oleskan pada mata yang sakit; pengobatan harus diteruskan sedikitnya 48 jam
sesudah bagian yang sakit normal kembali. (ISO 2008 hal 218)
Indikasi : Infeksi pada mata seperti takoma,
blefartitis, keratitis, konjungtivitis.
Kontraindikasi : Penderita yang sensitif terhadap kloramfenikol.
Efek samping : Kadang timbul reaksi hipersensitifitas
seperti rasa terbakar, gatal, kemerahan, ruam kulit, bengkak atau tanda-tanda
iritasi lain.
Cara Sterilisasi
D : Semua sediaan steril, dalam proses
pembuatannya menggunakan teknik aseptis (semua alat dan bahan disterilisasi
terlebih dahulu sesuai dengan monografi cara sterilisasi masing-masing).
Stabilitas kloramfenikol
:Kloramfenikol dalam keadaan kering atau padat dapat bertahan hingga
waktu yang cukup lama dengan menempatkan sediaan pada kondisi yang optimum
selama penyimpanan. Sediaan salep mata akan lebih stabil apabila basisnya
mengandung lemak bulu domba atau adeps lanae dan setil alkohol.
Stabilitas terhadap cahaya : Penyimpanan sediaan salep mata kloramfenikol
diusahakan terlindung dari cahaya atau sinar matahari (Reynolds, 1982).-
Stabilitas terhadap suhu : Sediaan ini bertambah stabil pada suhu
35ºC dengan penambahan sodiummetabisulfit
dan disodium edetat. Umumnya stabilitas akan berkurang pada suhu 25ºC (Lund,
1994). Menurut Reynolds (1982), sediaan kloramfenikol stabil selama 2 tahun
jika disimpan pada suhu 20º - 25ºC.
Stabilitas terhadap pH : pH stabil dari zat kloramfenikol
berkisar antara 4,5 sampai 7,5).-
Stabilitas terhadap oksigen :
Sediaan ini tidak stabil dengan adanya oksigen (Lund, 1994).d.
Titik lebur :
kloramfenikol antara 149-153ºC (Reynolds, 1982).
Inkompatibilitas : Kloramfenikol sodium suksinat dilaporkan
inkompatibilitas dengan adanyakandungan seperti aminofilin, ampisilin, asam
askorbat, kalsium klorida,chlorpromasin HCl, garam eritromisin, gentamisin
sulfat, natrium hidrokortisonsuksinat, natrium nitrofurantoin
Bentuk sediaan : Salep mata
Interaksi Obat : Dalam dosis terapi, kloramfenikol
menghambat biotransformasi tolbutamid, fenitoin, dikumarol dan obat lain yang
dimetabolisme oleh enzim mikrosom hepar. Interaksi obat dengan Penobarbital dan
rifampisisn akan memperpendek waktu paruh dari kloramfenikol.
Mekanisme kerja
kloramfenikol : Kloramfenikol bekerja dengan jalan menghambat sintesis protein
kuman. Yang dihambat ialah enzim peptidil transferase yang berperan sebagai
katalisator untuk membentuk ikatan peptide pada proses sintesis protein kuman.
Ø
Alasan pemilihan
bahan :
Kloramfenikol digunakan sebagai zat aktif antimikroba,
karena kloramfenikol merupakan antibiotik yang dapat mengalami kemunduran
khasiat di dalam larutan berair, terutama apabila tidak didapar. Oleh sebab itu
cara yang baik adalah menggunakan dasar salep anhidrous, yang merupakan basis
yang tidak mengandung air. Kloramfenikol
tidak larut dalam air maka dicampurkan terlebih dahulu dengan basis
2. Vaselin flavum.
Pemerian : Massa lunak,
lengket, bening, kuning muda sampai kuning, sifat ini tetapsetelah zat
dileburkan atau dibiarkan hingga dingin tanpa diaduk. Berflouresensilemah, juga
jika dicairkan ; tidak berbau, hampir tidak berasa (Depkes RI,1979).
Kelarutan : Dalam air : praktis tidak larut
Dalam etanol : praktis
tidak larut
Dalam kloroform : larut
Dalam eter : larut
Dalam eter minyak tanah :larutLarutan kadang-kadang beropalesensi
lemah
Stabilitas dan penyimpanan : Vaselin harus disimpan pada tempat yang
tertutup baik dan terlindung daricahaya
Titik lebur : 38-60ºC
(Sweetman, 2007).
Penggunaan : Vaselin digunakan sebagai basis
salep dan emolien pada pengobatan penyakit kulit (Sweetman, 2007).g.
Ø Alasan pemilihan bahan
Vaselin banyak digunakan pada sediaan farmasi sebagai komponen krim dan
salep. Vaselin juga umum digunakan sebagai lubrikan sediaan mata pada pengobatan
mata yang kering. Vaselin
flavum yang dipilih dan bukan vaselin album karena lebih aman untuk mata yang
merupakan organ yang sangat sensitif. Vaselin flavum bebas dari spora oksidator
dan asam yang mengiritasi mata, sehingga tidak perlu penambahan antioksidan. Menggunakan vaselin
kuning bukan vaselin putih, karena pembuatan vaselin putih dilarutkan dengan asam
kuat yaitu H2SO4 di mana H2SO4
dapat mengiritasi mata, meskipun sudah dinetralkan tetap saja kandungan asam
walaupun hanya sedikit masih ada dalam vaselin album.
3.
Parafin cair
Warna :
tidak berwarna
Bau : hamper tidak
berbau
Rasa :
hampir tidak mempunyai rasa
Pemerian :
cairan kental, transparan tidak berfloresensi
Kelarutan :
Dalam air tidak larut, Dalam alkohol sedikit larut alkohol, Dalam minyak
menguap larut , Dapat dicampur dengan
hidrokarbon, dan minyak tertentu (kecuali minyak jarak)
Bobot jenis : 0,84
– 0,89 g/cm3
Titik lebur : 96
– 105ºC
Stabilitas : paraffin disimpan pada suhu tidak lebih 40ºC,
walau berulang kali mencair dan mengental berubah fisik
Stabilitas dan Penyimpanann : Parafin merupakan zat yang stabil, kecuali dengan
pemanasan dan pembekuanyang berulang dapat mengubah komponen fisiknya. Parafin
harus disimpanpada tempat yang tertutup rapat, dengan temperature tidak kurang
dari 40ºC
Ø Alasan pemilihan bahan
Parafin cair
berguna untuk memperbaiki konsistensi basis sehingga lebih lunak dan memudahkan
penggunaan, selain itu penambahan parafin cair kedalam vaselin maka akan menghasilkan
sediaan yang lembut. Parafin cair Stabil pada
perubahan suhu, dapt bercampur
terhadap zat aktif, mudah
digunakan, mudah disebar, melekat pada kulit, tidak terasa berminyak dan mudah
dibersihkan.
Aplikasi dalam bidang farmasi dan teknologi :
Parafin banyak digunakan pada
sediaan farmasi sebagai komponen krim dan salep. Pada salep, dapat digunakan
untuk menurunkan suhu lebur formulasi.
Konsentrasi penggunaan :
Ophthalmic ointments : 3 – 60%, Topical ointments 0,1 – 95 %
4. Adeps lanae
Sinonim :
anhydrous lanolin
Pemerian :
warna kuning,
Kegunaan : basis
salep
Kelarutan : tidak larut dalam air, dapat bercampur dengan air lebih
kurang 2 kali beratnya, agak sukar larut dalam etanol dingin, lebih larut dalam
etanol panas, mudah larut dalam eter dalam kloroform.
Titik lebur : 38-44 0C
Sterilisasi :
panas kering pada suhu 1000C sampai 1500C selama 1 jam
Ø Alasan pemilihan bahan
Adeps lanae
digunakan untuk mempertahankan obat agar bekerja lebih lama karena merupakan
basis tipe air di dalam minyak yang sulit untuk dicuci karena sifatnya seperti
lemak, sehingga obat akan tetap terdispersi sempurna di bagian bawah kelopak
mata.
5. Cetyl Alkohol
Rumus molekul : C16H34O
Rumus bangun : BM : 242,44
Pemerian : bahan dari
lilin, serpih putih, granul,kotak, sedikit bau dan rasa sedikit lunak
Kelarutan :Mudah larut dalam etanol (95%) dan eter,
dapat meningkatkan kelarutan dengan penignkatan suhu,
praktis tidak larut dalam air.
Titik peleburan : 45 – 52 oC
Penggunaan : Coating agent,
emulsifying agent, stiffening agent.
Konsentrasi : Emollient 2-5%, Emulsifying agent 2 – 5 %,
stiffening
agent 2 – 10% dan
water absorption 5%
Ø Alasan Pemilihan Bahan
Setil alkohol yang berfungsi untuk menyerap air serta
membantu stabilitas campuran obat di dalam air karena setil alkohol mempunyai
sifat untuk meningkatkan stabilitas sehingga lebih mudah untuk menyerap air di
dalam campuran basis, memperbaiki tekstur dan meningkatkan konsistensi karena
bentuknya yang seperti lilin sehingga digunakan sebagai emolien pada sediaan
salep
BAB III
METODE KERJA
3.1 Formulasi
3.1.1 Formula standart: Fornas hal: 67
Chloramphenicolli
Oculentum
Salep
mata kloramfenikol
Komposisi: tiap g mengandung:
R/Chloramphenicollum
100mg
Hydrocortisoni
acetas 5mg
Oculenntum
simplex ad 1g
3.1.2 Formulasi
R/ Chlorampenikol 100mg
Oculenntum
simplex ad 1gà Setil Alkohol 2,5%
Adeps Lanae 6%
Parafin cair 40%
Vaselin kuning ad 10g
Perhitungan bahan
1.
Chlorampenikol 100 mg x 10 g = 1000 mg = 1 g
2.
Setil Alkohol
x 10 g = 0,25 g
0,25 ml
Penambahan 10%
x 0,25 g = 0,025 g,
jadi setil yg ditimbang 0,275 g
0,275 ml
3.
Adeps Lanae
x 10 g = 0,6 g
Penambahan 10%
x 0,6 g = 0,06 g,
jadi adeps lanae yang ditimbang 0,66 g
660mg
4.
Parafin cair
x 10 g = 4 g
4 ml
5.
Vaselin kuning 10g – 0,1 – 0,25 – 0,6 – 0,66 – 4 =
4,39 g
4390 mg
Penambahan 10%
x 4,39 g = 0,439 g,
jadi yang ditimbang 4,829 g
4829 mg
3.2 Tabel Sterilisasi alat dan bahan
|
Alat
|
Cara Sterilisasi
|
|
Mortir Stamper
|
Sterilisasi dengan
disiram alkohol 96% dan dibakar langsung
|
|
Sudip
|
Autoklaf 1210
C selama 15 menit
|
|
Sendok tanduk
|
Autoklaf 1210
C selama 15 menit
|
|
Kaca arloji
|
Autoklaf 1210
C selama 15 menit
|
|
Cawan porselen
|
Autoklaf 1210
C selama 15 menit
|
|
Kasa steril
|
Autoklaf 1210
C selama 15 menit
|
|
Pipet tetes
|
Autoklaf 121ºC selama 15 menit
|
|
Perkamen
|
Oven 1800
C selama 30 menit
|
|
Tube salap
|
Oven 1800
C selama 30 menit
|
|
Batang pengaduk
|
Oven 1800
C selama 30 menit
|
|
Spatula logam
|
Oven 1800
C selama 30 menit
|
3.4 Prosedur Pembuatan
1.
Di siapkan APD
2.
Disiapkan
alat dan bahan
3.
Semua alat yang akan di gunakan di sterilkan terlebih
dahulu .
4.
Lapisi cawan penguap dengan kasa steril
5.
Ditimbang bahan yang akan digunakan (kloramfenikol,
vaselin flavum dan adeps lanae)
6.
Diukur bahan yang akan digunakan (setyl alkohol dan
parafin liquidum)
7.
Digerus kloramfenikol hingga halus
8.
Dimasukkan campuran basis (vaselin flavum, adeps
lanae,dan setyl alkohol) ke dalam cawan yang sudah dilapisi dengan kasa
9.
Dimasukkan cawan ke dalam oven kering, ditunggu
hingga meleleh sempurna
10.
Diaduk basis yang sudah dilebur perlahan-lahan sampai
agak dingin kemudian ditambahkan dengan parafin liquidum sedikit demi sedikit
sambil diaduk
11.
Dimasukkan basis ke dalam mortir yang berisi
kloramfenikol yang sudah dihaluskan
12.
Digerus ad homogen
13.
Dimasukkan ke dalam tube
14.
Diberi etiket warna biru
3.5 Evaluasi sediaan
1. Homogenitas
a.
Dioleskan salap mata pada kaca objek
b.
Diamati ada tidaknya partikel kasar
2. pH
a.
Dioleskan salap mata pada kertas pH universal
b.
Diamati dan dicocokkan dengan warna pH pada kemasan
3. Uji Daya Sebar
a)
Ditimbang 0,5 gram salap mata
b)
Diletakkan hati-hati diatas
kertas grafik yang dilapisi plastic transparan
c)
Dibiarkan 60 detik dan luas
daerah yang diberikan oleh sediaan dihitung kemudian ditutup lagi dengan
plastik yang diberi beban tertentu masing-masing 50 gram, 100 g, dan 150 g
d)
Dibiarkan selama 60 detik
pertambahan luas yang diberikan oelh sediaan dapat dihitung
5. Viskositas
a.
Dimasukkan sediaan salap mata
pada viskometer
b.
Diputar viskometer dan dilihat
skala yang terbaca
6. Uji daya Lekat
a)
Diletakkan sediaan salap mata
pada 2 kaca objek yang telah ditentukan
b)
Ditekan dengan beban 1 kg selama
5 menit
c)
Dipasang alat test beban,
diberikan beban 80 gram dan kemudian dicatat waktu pelepasan dari gelas objek.
7.
Uji Kebocoran
a. Diambil tube
salap, dibersihkan permukaan luar dengan kertas penguap
b. Diletakkan tube
diatas loyang (horizontal) dioven selama 1 jam 600 C
c. Diamati terjadi
kebocoran atau tidak (diamati kertas penyerap harus tetap kering)
8.
Uji Sterilisasi ( inokulasi
lansung)
a.
Dibuat media agar
b.
Dioleskan dengan kawat ose dari
salap mata dan digores dengan teknik zig zag pada media agar
c.
Diinkubasi selama 24 jam
d.
Diamati ada tidaknya
mikroorganisme dengan cara melihat bintik-bintik pada media agar.
9.
Uji partikel logam ( FI IV hal
1038)
a.
Tujuan :Untuk membatasi jumlah
partikel logam yang diperbolehkan
b.
Yaitu: jika partikel dari 10 tube
tidak lebih dari 50 partikel yang berukuran 50 mikrometer dan jika tidak lebih
dari 1 tube mengandung 8 partikel
c.
Syarat cemaran logam: SNI
Timbal ( Pb ) :
maks. 0,2 mg/kg (cairan , pasta, padatan)
Tembaga ( Cu ) :
maks. 2 mg/kg mg/kg (cairan , pasta, padatan)
Seng (Zn) : maks. 5
mg/kg mg/kg (cairan , pasta, padatan)
10.
Uji sentrifugasi
Tujuan : untuk
mengetahui masa kadaluarsa salep mata.
Prosedur : sampel
disentrifugasi dengan kecepatan 3500 rpm selama 5 jam atau
5000 – 10.000 rpm selama 30 menit.
11. Uji Partikel Kasar
Tujuan : Untuk
mengetahui adanya partikel kasar dalam sediaan.
Prosedur :
1. Disiapkan 2 buah kaca preparat yang sudah dibersihkan dan steril.
2. Diambil sediaan salep mata lalu diletakan pada kaca preparat.
3. Setelah itu ditutup dengan kaca preparat lalu diamati secara visual.
next time, background nya yg polosan aja ya. nggak kelihatan
BalasHapusok ok
Hapus