Praktikum Suuppositoria
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Setiap
orang pasti pernah meminum obat. Obat digunakan untuk mencegah, mengurangi, dan
mengobati penyakit pada manusia maupun hewan. Dalam bidang industri farmasi,
perkembangan dalam teknologi farmasi sangat berperan penting dalam peningkatan
kualitas produksi sediaan obat-obatan, sehingga tidak dapat dipungkiri lagi
semakin banyaknya industri farmasi pada saat ini bersaing untuk menciptakan
suatu sediaan obat dalam bentuk yang bermacam-macam. Hal ini banyak ditunjukkan
dengan adanya banyaknya sediaan
obat-obatan yang disesuaikan dengan karakteristik dari zat aktif obat tersebut,
kondisi pasien dan penigkatan kualitas obat dengan meminimalkan efek samping
obat tanpa harus mengurangi atau mengganggu dari efek farmakologis zat aktif
obat tersebut.
Pemakaian obat-obatan yang lebih efektif dan
efesien serta daya adsorpsi yang cepat pada saat ini diminati oleh masyarakat
luas. Sediaan obat yang sering digunakan sebagai terapi pengobatan topikal
biasanya berbentuk setengah padat. Sediaan
dalam bentuk setengah padat terdiri dari
beberapa macam yaitu salep, pasta, krim, gel dan suppositoria.
Sediaan
obat setengah padat banyak diminati karena memiliki kelebihan, seperti dari
cara pemakaian yang pada umumnya hanya dioleskan pada daerah yang sakit dan
sebagai pelindung kulit, tetapi tidak untuk sediaan suppositoria yang
pemakaiannya melalui mukosa rectum. Selain kelebihan, sediaan ini memiliki
kelemahan yaitu mudah kering dan mudah rusak,
khususnya tipe air dalam minyak. Apalagi salah dalam pembuatan dan pencampuran
basis dengan bahan aktif. Sediaan tersebut tidak dapat diproduksi dan
dikonsumsi.
mengantisipasi
kerugian yang dimiliki oleh sediaan semi solid ini, maka dalam pembuatannya
harus diperhatikan persyaratan-persyaratan yang ada, seperti pemerian, kadar,
bahan dasar, homogenitas serta penandaan. Selain itu, diharuskan melakukan
evaluasi pada sediaan ini layak atau tidak untuk dikonsumsi oleh pasien. Dari
hal diatas praktikan diharapkan dapat membuat sediaan semi solid dan mengetahui
basis yang tepat dalam pembuatan sediaan tersebut sesuai persyaratan yang ada.
Tujuan
a.
Mengenal dan memahami cara pembuatan dan evaluasi bentuk
sediaan semi solid.
b.
Menerapkan metode yang baik pembuatan sediaan semi solid dalam praktikum dan dunia kerja.
Manfaat
a.
Mampu memahami cara pembuatan dan evaluasi sediaan semi solid dengan baik
b.
Mampu menerapkan metode yang baik pembuatan sediaan semi solid dalam praktikum dan dunia kerja
BAB
II
TINJAUAN PUSTAKA
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Supositoria
Menurut
Farmakope Indonesia Edisi IV, Supositoria adalah sediaan padat dalam berbagai
bobot dan bentuk, yang diberikan melalui rectal, vagina atau uretra.
Menurut Farmakope Indonesia
Edisi III, Supositoria adalah
sediaan padat yang digunakan melalui dubur, umumnya berbentuk torepedo dapat
melarut, melunak atau meleleh pada subu tubuh.
2.1.1
Macam-Macam Suppositoria
Berdasarkan tempat pemberiannya
suppositoria dibagi menjadi:
a.
Suppositoria untuk rectum (rectal)
Suppositoria untuk rektum umumnya dimasukkan dengan
jari tangan. Biasanya suppositoria rektum panjangnya ± 32 mm (1,5 inchi), dan
berbentuk silinder dan kedua ujungnya tajam. Bentuk suppositoria rektum antara
lain bentuk peluru, torpedo atau jari-jari kecil, tergantung kepada bobot jenis
bahan obat dan basis yang digunakan. Beratnya menurut USP sebesar 2 gram untuk
yang menggunakan basis oleum cacao (Ansel,2005 ).
b.
Suppositoria untuk vagina (vaginal)
Suppositoria untuk vagina disebut juga
pessarium biasanya berbentuk bola lonjong atau seperti kerucut, sesuai
kompendik resmi beratnya 5 gram apabila basisnya oleum cacao.
c.
Suppositoria untuk saluran urin (uretra)
Suppositoria untuk untuk saluran urin juga
disebut bougie, bentuknya rampiung seperti pensil, gunanya untuk dimasukkan
kesaluran urin pria atau wanita. Suppositoria saluran urin pria bergaris tengah
3-6 mm dengan panjang ±
140 mm, walaupun ukuran ini masih bervariasi satu dengan yang lainnya. Apabila
basisnya dari oleum cacao beratnya ± 4 gram. suppositoria untuk saluran urin
wanita panjang dan beratnya ½ dari ukuran untuk pria, panjang ± 70 mm dan
beratnya 2 gram, inipun bila oleum cacao sebagai basisnya.
d.
Suppositoia
untuk hidung dan telinga
Suppositoia
untuk hidung dan telinga yang disebut juga kerucut telinga, keduanya berbentuk
sama dengan suppositoria saluran urin hanya ukuran panjangnya lebih kecil,
biasanya 32 mm. suppositoria telinga umunya diolah dengan suatu basis gelatin
yang mengandung gliserin. Seperti dinyatakan sebelumnya, suppositoria untuk
obat hidung dan telinga sekarang jarang digunakan.
2.1.3 Keuntungan dan Kerugian Supositoria
Keuntungan Supositoria:
a.
Dapat menghindari terjadinya iritasi
pada lambung
b.
Dapat menghindari keruskan obat oleh
enzim pencernaan dan asam lambung
c.
Obat dapat masuk langsung kedalam
saluran darah sehingga obat dapat berefek lebih cepat daripada penggunaan obat
peroral
d.
Baik bagi pasien yang mudah muntah atau
tidak sadar
Kerugian Supositoria
a.
Pemakaiannya tidak menyenangkan
b.
Tidak dapat disimpan pada suhu ruang
2.1.4
Tujuan penggunaan suppositoria yaitu :
a. Supositoria
dipakai unjtuk pengobtan local,baik di dalam rectum,vagina,atau uretra,seperti
pada penyakit haemorroid/wasir/ambeien,dan infeksi lainnya.
b. Cara
rectal juga digunakan untuk distribusi sistemik,karena dapat diserap oleh
membran mukosa dalam rectum .
c. Jika
penggunaan obat secara oral tidak memungkinkan,misalnya pada pasien yang mudah
muntah atau pasien yang tidak sadarkan diri.
d. Aksi
kerja awal akan cepat diperoleh,karena obat diabsorpsi melalui mukosa rectum
dan langsung masuk dalam sirkulasi darah.
e. Agar
terhindar dari perusakan obat oleh enzim di dalam saluran gastrointestinal dan
perubahan obat secara biokimia di dalam hati.
2.2 Basis suppositoria
Sediaan supositoria ketika dimasukkan dalam lubang tubuh akan
melebur, melarut dan terdispersi. Dalam hal ini, basis supositoria memainkan
peranan penting. Maka dari itu basis supositoria harus memenuhi syarat utama,
yaitu basis harus selalu padat dalam suhu ruangan dan akan melebur maupun
melunak dengan mudah pada suhu tubuh sehingga zat aktif atau obat yang
dikandungnya dapat melarut dan didispersikan merata kemudian menghasilkan efek
terapi lokal maupun sistemik. Basis supositoria yang ideal juga harus mempunyai
beberapa sifat seperti berikut :
1. Tidak
beracun dan tidak menimbulkan iritasi.
2. Dapat
bercampur dengan bermacam-macam obat.
3. Stabil
dalam penyimpanan, tidak menunjukkan perubahan warna dan bau serta pemisahan
obat.
4. Kadar
air mencukupi.
5. Untuk
basis lemak, maka bilangan asam, bilangan iodium dan bilangan penyabunan harus
diketahui jelas.
2.2.1 Persayaratan
basis Suppositoria
1.
Secara fisiologi netral ( tidak
menimbulkan rangsangan pada usus, hal ini dapat disebabkan oleh massa yang
tidak fisiologis ataun tengik, terlallu keras, juga oleh kasarnya bahan obat
yang diracik)
2.
Secara kimia netral (tidak tersatukan
dengan bahan obat)
3.
Tanpa alotropisme (modifikasi yang tidak
stabil)
4.
Interval yang rendah antara titik lebur
dan titik beku (pembekuan dapat berlangsung cepat dalam
cetakan,kontraksibilitas baik, mencegah pendinginan mendaak dalam cetakan)
5.
Interval yang rendah antara titik lebur
mengalir denagn titik lebur jernih (ini dikarenakan untuk kemantapan bentuk dan daya penyimpanan,
khususnya pada suhu tinggi sehingga tetap stabil).
2.2.2
Macam-macam basis Suppositoria.
1.
Basis berlemak,
contohnya : oleum cacao.
2.
Basis lain,
pembentuk emulsi dalam minyak :campuran tween dengan gliserin laurat.
3.
Basis yang
bercampur atau larut dalam air, contohnya : gliserin-gelatin, PEG (polietien
glikol).
2.2.3 Bahan
dasar supositoria
1. Bahan
dasar berlemak : oleum cacao
Lemak
coklat merupakan trigliserida berwarna kekuninagan, memiliki bau yang khas dan
bersifat polimorf (mepunyai banyak bentuk krital). Jika dipanaskan pada suhu
sektiras 30°C akan mulai mencair dan biasanya meleleh sekitar 34°-35°C,
sedangkan dibawah 30°C berupa massa semipadat. Jika suhu pemanasannya tinggi,
lemak coklat akan mencai sempurna seperti minyak dan akan kehilangan semua inti
Kristal metastabil.
Ø Keuntungan oleum cacao :
a.
Dapat melebur
pada suhu tubuh
b.
Dapat memadat
pada suhu kamar
Ø Kerugian oleum cacao :
a.
Tidak dapat
bercampur dengan cairan sekresi (cairan pengeluaran).
b.
Titik leburnya
tidak menentu, kadang naik dan kadang turun apabila ditambahkan dengan bahan
tertentu.
c.
Meleleh pada
udara yang panas.
2. PEG
(Polietilenglikol)
PEG merupakan etilenglikol terpolimerisasi dengan
bobot molekul antara 300-6000. Dipasaran terdapat PEG 400 (carbowax 400). PEG
1000 (carbowax 1000), PEG 1500 (carbowax 1500), PEG 4000 (carbowax 4000), dan
PEG 6000 (carbowax 6000). PEG di bawah 1000 berbentuk cair, sedangkan di atas
1000 berbentuk padat lunak seperti malam. Formula PEG yang dipakai sebagai
berikut:
1.
Bahan dasar tidak berair : PEG 4000 4%
(25%) dan PEG 1000 96% (75%)
2.
Bahan dasar berair : PEG 1540 30%, PEG
6000 50% dan aqua+obat 20%
Titik lebur PEG antara 35°-63°C, tidak
meleleh pada suhu tubuh tetapi larut dalam cairan sekresi tubuh.
·
Keuntungan menggunakan PEG sebagai basis
supositoria, antara lain:
1.
Tidak mengiritasi atau merangsang
2.
Tidak ada kesulitan dengan titik
leburnya, jika dibandingkan dengan oleum cacao
3.
Tetap kontak dengan lapisan mukosa
karena tidak meleleh pada suhu tubuh
·
Kerugian jika digunakan sebagai basis
supositoria, antara lain :
1.
Menarik cairan dari jaringan tubuh
setelah dimasukkan, sehingga timbul rasa yang menyengat. Hal ini dapat diatasi
dengan cara mencelupkan supositoria ke dalam air dahulu sebelum digunakan.
2.
Dapat memperpanjang waktu disolusi
sehingga mengahambat pelepasan obat.
Pembuatan supositoria dengan PEG
dilakukan dengan melelehkan bahan dasar, lalu dituangkan ke dalam cetakan
seperti pembuatan supositoria dengan bahan dasar lemak coklat
2.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi Absobsi obat per rektal
Rektum mengandung
sedikit cairan dengan PH 7,2 dan kapasitas dapar rendah. Epitel rektum sifatnya
berlipoid (berlemak) maka diutamakan
permeabel terhadap obat yang tidak terionisasi (obat yang mudah larut
lemak.
2.4 Nilai Tukar
Pada pembuatan supositoria menggunakan
cetakan, volume supositoria harus tetap. Tetapi, bobotnya beragam tergantung
pada jumlah dan bobot jenis yang dapat diabaikan, misalnya ekstrak belladonea
dan garam alkaloid.
Nilai tukar dimaksudkan untuk
mengetahui bobot minyak cokelat yang mempunyai volume yang sama dengan 1g obat.
|
Nama Obat
|
Nilai tukar ol cacao per 1g
|
|
Acidum
boricum
|
0.65
|
|
Garam
alkaloid
|
0.7
|
|
Bismuth
subgallas
|
0.37
|
|
Ichtam molum
|
0.72
|
|
Tanninum
|
0.68
|
|
Aethylis
aminobenzoas
|
0.68
|
|
Aminoplhylinum
|
0.86
|
|
Bismuth
subnitras
|
0.20
|
|
Sulfonamidum
|
0.60
|
|
Zinci
oxydum
|
0.25
|
Dalam praktik, nilai tukar beberapa obat adalah 0.7 kecuali
untuk garam bismuth dan zink oksida. Untuk larutan nilai tukarnya dianggap
satu. Jika supositoria mengandung obat atau zat padat yang banyak, pengisisan
pada cetakan berkurang dan jika dipenuhi dengan campuran massa, akan diperoleh
jumlah obat yang melebihi dosis. Oleh sebab itu, untuk membuat supositoria yang
sesuai dapat dilakukan dengan cara menggunakan perhitungan nilai tukar (Syamsuni
hal 161).
2.5 Uji Bahan Aktif
1.
Titik lebur
Titik
lebur adalah suhu di mana zat yang kita uji pertama kali melebur atau meleleh
seluruhnya yang ditunjukan pada saat fase padat cepat hilang. Dalam analisa
farmasi titik lebur untuk menetapkan karakteristik senyawa dan identifikasi
adanya pengotor. Untuk uji titik lebur di butuhkan alat pengukuran titik lebur
yaitu, Metting Point Apparatus (MPA) alat ini digunakan untuk melihat atau
mengukur besarnya titik lebur suatu zat.
2.
Bobot jenis
Bobot
jenis adalah perbandingan bobot jenis udara pada suhu 25
terhadap bobot air
dengan volume dan suhu yang sama. Bobot jenis suatu zat adalah hasil yang
diperoleh dengan membagi bobot jenis dengan bobot air dalam piknometer. Lalu
dinyatakan lain dalam monografi keduanya ditetapkan pada suhu 25
. (FI IV hal 1302). Bobot jenis dapat digunakan untuk :
§ Mengetahui
kepekaan suatu zat
§ Mengetahui
kemurniaan suatu zat
§ Mengetahui
jenis zat
Alat
yang digunakan untuk mengukur bobot jenis.
Piknometer
untuk menentukan bobot jenis zat padat dan zat cair. Zat padat berbeda dengan
zat cair, zat padat memiliki pori dan rongga sehingga berat jenis tidak dapat
terdefenisi dengan jelas. Berat jenis sejati merupakan berat jenis yang dihitung
tanpa pori atau rongga ruang. Sedangkan berat jenis nyata merupakan berat jenis
yang di hitung sekaligus degan porinya sehingga
nyata <
sejati.
2.6 Metode Pembuatan
Pembuatan supositoria
secara umum yaitu bahan dasar supositoria yang digunakan dipilih agar meleleh
pada suhu tubuh atau dapat larut dalam bahan dasar, jika perlu dipanaskan. Jika
obat sukar larut dalam bahan dasar, harus dibuat serbuk halus. setelah campuran
obat dan bahan dasar meleleh atau mencair, tuangkan ke dalam cetakan supositoria
kemudian didinginkan. Tujuan dibuat serbuk halus untuk membantu homogenitas zat
aktif dengan bahan dasar.
Cetakan
suppositoria terbuat dari besi yang dilapisi nikel atau logam lainnya, namun
ada juga yang terbuat dari plastik. Cetakan ini mudah
dibuka secara longitudinal untuk mengeluarkan supositoria. Untuk mengatasi
massa yang hilang karena melekat pada cetakan, supositoria harus dibuat
berlebih (±10%), dan sebelum digunakan cetakan harus dibasahi lebih dahulu
dengan parafin cair atau minyak lemak, atau spiritus sapotanus (Soft Soap liniment) agar sediaan tidak
melekat pada cetakan. Namun, spiritus sapotanus tidak boleh digunakan untuk
supositoria yang mengandung garam logam karena akan bereaksi dengan sabunnya
dan sebagai pengganti digunakan oleum recini dalam etanol. Khusus supositoria
dengan bahan dasar PEG dan Tween bahan pelicin cetakan tidak diperlukan, karena
bahan dasar tersebut dapat mengerut sehingga mudah dilepas dari cetakan pada
proses pendinginan.
a.
Dengan tangan
Yaitu dengan cara menggulung basis suppositoria yang telah
dicampur homogen dan mengandung zat aktif, menjadi bentuk yang dikehendaki.
Mula-mula basis diiris, kemudian diaduk dengan bahan-bahan aktif dengan
menggunakan mortir dan stamper, sampai diperoleh massa akhir yang homogen dan
mudah dibentuk. Kemudian massa digulung menjadi suatu batang silinder dengan
garis tengah dan panjang yang dikehendaki. Amilum atau talk dapat mencegah
pelekatan pada tangan. Batang silinder dipotong dan salah satu ujungnya
diruncingkan.
b.
Dengan mencetak kompresi
Hal ini dilakukan dengan mengempa parutan massa dingin
menjadi suatu bentuk yang dikehendaki. Suatu roda tangan berputar menekan suatu
piston pada massa suppositoria yang diisikan dalam silinder, sehingga massa
terdorong kedalam cetakan.
c.
Dengan mencetak tuang
Pertama-tama bahan basis dilelehkan, sebaiknya diatas
penangas air atau penangas uap untuk menghindari pemanasan setempat yang
berlebihan, kemudian bahan-bahan aktif diemulsikan atau disuspensikan
kedalamnya. Akhirnya massa dituang kedalam cetakan logam yang telah
didinginkan, yang umumnya dilapisi krom atau nikel.
2.7 Pengemasan Supositoria
a.
Supositoria gliserin dan supositoria gelatin gliserin
umumnya dikemas dalam wadah gelas ditutup rapat supaya encegah perubahan
kelembapan dalam isi supositoria.
b.
Supositoria yang diolah dengan basis oleum cacao biasanya dibungkus terpisah-pisah atau
dipisahkan satu sama lain pada celah-celah dalam kotak untuk mencegah
perekatan.
c.
Supositoria dengan kandungan obat yang sedikit lebih pekat
biasnya dibungkus satu per satu dalam bahan tidak tembus cahaya seperti
lembaran metal (alumunium foil)
2.8 Evaluasi
Sediaan
Pengujian
sediaan supositoria yang dilakukan sebagai berikut:
1.
Uji homogenitas
Uji homogenitas ini bertujuan untuk mengetahui
apakah bahan aktif dapat tercampur rata dengan bahan dasar suppo atau tidak,
jika tidak dapat tercampur maka akan mempengaruhi proses absorbsi dalam tubuh.
Obat yang terlepas akan memberikan terapi yang berbeda. Cara menguji
homogenitas yaitu dengan cara mengambil 3 titik bagian suppo (atas-tengah-bawah
atau kanan-tengah-kiri) masing-masing bagian diletakkan pada kaca objek
kemudian diamati dibawah mikroskop, cara selanjutnya dengan menguji kadarnya
dapat dilakukan dengan cara titrasi.
2. Bentuk
Bentuk suppositoria juga perlu diperhatikan karena
jika dari bentuknya tidak seperti sediaan suppositoria pada umunya, maka
seseorang yang tidak tahu akan mengira bahwa sediaan tersebut bukanlah obat.
Untuk itu, bentuk juga sangat mendukung karena akan memberikan keyakinan pada
pasien bahwa sediaa tersebut adalah suppositoria. Selain itu, suppositoria
merupakan sediaan padat yang mempunyai bentuk torpedo.
3. Uji
waktu hancur
Uji waktu hancur ini dilakukan untuk mengetahui berapa
lama sediaan tersebut dapat hancur dalam tubuh. Cara uji waktu hancur dengan
dimasukkan dalam air yang di set sama dengan suhu tubuh manusia, kemudian pada
sediaan yang berbahan dasar PEG 1000 waktu hancurnya ±15 menit, sedangkan untuk
oleum cacao dingin 3 menit. Jika melebihi syarat diatas maka sediaan tersebut
belum memenuhi syarat untuk digunakan dalam tubuh. Mengapa menggunakan media
air ? dikarenakan sebagian besar tubuh manusia mengandung cairan.
4. Keseragaman
bobot
Keseragaman bobot dilakukan untuk mengetahui apakah
bobot tiap sediaan sudah sama atau belum, jika belum maka perlu dicatat.
Keseragaman bobot akan mempengaruhi terhadap kemurnian suatu sediaan karena
dikhawatirkan zat lain yang ikut tercampur. Caranya dengan ditimbang saksama 10
suppositoria, satu persatu kemudian dihitung berat rata-ratanya. Dari hasil penetapan kadar, yang diperoleh dalam
masing-masing monografi, hitung jumlah zat aktif dari masing-masing 10
suppositoria dengan anggapan zat aktif terdistribusi homogen. Jika terdapat sediaan
yang beratnya melebihi rata-rata maka suppositoria tersebut tidak memenuhi
syarat dalam keseragaman bobot. Karena keseragaman bobot dilakukan untuk
mengetahui kandungan yang terdapat dalam masing-masing suppositoria tersebut
sama dan dapat memberikan efek terapi yang sama pula.
5.
Uji titik lebur
Uji
ini dilakukan sebagai simulasi untuk mengetahui waktu yang dibutuhkan sediaan
supositoria yang dibuat melebur dalam tubuh. Dilakukan dengan cara menyiapkan
air dengan suhu ±37°C. Kemudian dimasukkan supositoria ke dalam air dan diamati
waktu leburnya. Untuk basis oleum cacao dingin persyaratan leburnya adalah 3
menit, sedangkan untuk PEG 1000 adalah 15 menit.
6.
Kerapuhan
Supositoria
sebaiknya jangan terlalu lembek maupun terlalu keras yang menjadikannya sukar
meleleh. Untuk uji kerapuhan dapat digunakan uji elastisitas. Supositoria
dipotong horizontal. Kemudian ditandai kedua titik pengukuran melalui bagian
yang melebar, dengan jarak tidak kurang dari 50% dari lebar bahan yang datar,
kemudian diberi beban seberat 20N (lebih kurang 2kg) dengan cara menggerakkan
jari atau batang yang dimasukkan ke dalam tabung.
7.
Volume Distribusi
Volume distribusi (Vd) merupakan
parameter untuk untuk menunjukkan volume penyebaran obat dalam tubuh dengan
kadar plasma atau serum. Volume distribusi ini hanyalah perhitungan volume
sementara yang menggambarkan luasnya distribusi obat dalam tubuh.
Tubuh
dianggap sebagai 1 kompartemen yang terduru dari plasma atau serum, dan Vd
adalah jumlah obat dalam tubuh dibagi dengan kadarnya dalam plasma atau serum.
Keterangan :
· X
= jumlah obat dalam tubuh
· C
= kadar obat dalam plasma atau serum
· DIV
= dosis obat dalam pemberian IV
· Doral = dosis obat dalam pemberian oral
· F
= fraksi dosis oral yang mencapai peredaran darah sistemik dalam bentuk aktif.
= bioavailabilitas absolute obat oral
· Co=
kadar plasma atau serum pada waktu T = 0 (ekstrapolasi garis eliminasi ke t = 0
)
Besarnya Vd ditentukan oleh ukuran dan
komposisi tubuh, kemampuan molekul obat memasuki berbagai kompartemen tubuh,
dan derajat ikatan obat dengan protein plasma dan dengan berbagai jaringan.
Obat yang tertimbun dalam jaringan mempunyai kadar dalam plasma yang rendah sekali sedangkan Vd
nya besar (misalnya, digoksin). Untuk obat yang terikat dengan kuat pada
protein plasma mempunyai kadar plasma yang cukup tinggi dan mempunyai Vd
yang kecil (misalnya, warfarin, tolbutamid dan salisilat).
2.9
Monografi
Monografi bahan dalam
pembuatan sediaan supositorian adalah sebagai berikut:
1. Aminophyllinum,
Teofilin Etilendiamin (FI IV hal 90)

· Pemerian
: butir atau serbuk putih atau agak kekuningan, bau ammonia lemah, rasa pahit.
Jika dibiarkan di udara terbuka, perlahan-lahan kehilangan etilenadiamina dan
menyerap karbon dioksida dengan melepaskan teofilin. Larutan bersifat basa
terhadap kertas lakmus.
· Kelarutan
: tidak larut dalam etanol dan dalam eter. Larutan 1 g dalam 25 air
menghasilkan larutan jernih, larutan 1 g dalam 5 ml air menghablur jika
didiamkan dan larut kembali jika ditambah sedikit etilenadiamina.
· Khasiat
: obat asma
2. Bisakodil,
Bisacodylum (FI IV hal 144)
· Pemerian
: serbuk hablur, putih sampai hampir putih, terutama terdiri dari partikel
dengan diameter terpanjang lebih kecil dari 50 µm.
· Kelarutan
: praktis tidak larut dalam air, larut dalam kloroform, dan dalam benzene, agak
sukar larut dalam etanol dan dalam methanol, sukar larut dalam eter.
· Khasiat
: Obat laksativum atau memperlancar BAB
3. Oleum
Cacao (FI-III hal 453)
Lemak
coklat adalahcoklat padat yang diperoleh dengan pemerasan panas biji Theo Broma
Cacao L. Yang telah dikupas / dipanggang.
· Pemerian : lemak padat, putih kekuningan, bau
khas aromatic, rasa khas lemak agak rapuh.
· Kelarutan : sukar larut dalam etanol (95 %)P,
mudah larut dalam kloroform P, dalam eter P dan dalam eter minyak tanah P.
· Suhu
lebur : 310 – 340
C.
· Khasiat : Zat tambahan.
2.9.1
Alasan Pemilihan Bahan
Alasan pemilihan bahan pada
pembuatan sediaan supositoria adalah sebagai berikut:
1.
Aminophyllinum
Aminophyllinum
merupakan bahan obat yang berkhasiat untuk mengobati asma atau sebagai
brokodilator pada penderita asma. Aminophyllinum dalam sediaan sipositoria
merupakan sediaan yang memberikan efek terapi lebih cepat dibandingkan dengan
sediaan yang lain. Hal ini karena kerja obat sediaan supositoria memiliki rute
pemberian yang lebih pendek daripada sediaan oral.
2. Bisakodil
Bisakodil
merupakan laksansia kontak populer yang bekerja langsung terhadap dinding usus
besar (colon) dengan memperkuat peristaltiknya. Tinja pun menjadi lunak. Dalam
usus halus bisakodil diresorpsi sampai 50% dan pada penggunaan rectal setelah
k.l. 30 menit. Obat yang diberikan secara rectal ini dapat merangsang selaput
lender rectum. Obat ini tidak boleh digunakan bersamaan dengan susu atau
zat-zat yang bereaksi alkalis (antasida) karena bisa merusak lapisan
enteric-coating dari tablet. Dosis supositoria 10 mg (asetat) pada pagi hari.
4.
Oleum Cacao
Oleum Cacao berdaya guna dalam melepaskan zat aktif
daripada yang lain, karena mempunyai
titik lebur pada suhu 31°-34°. Dibuat dalam bentuk suppositoria ditujukan untuk
melebur pada suhu tubuh, karena oleum digunakan sebagai bahan dasar suppo yang
ketambahan zat aktif, jadi titik leburnya akan menjadi 35°-37°. Obat yang larut dalam air yang dicampur dengan oleum cacao, pada umumnya
member hasil pelepasan yang baik. (Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi: 581)
BAB
III
METODOLOGI
KERJA
3.1 Formulasi
1. Formulasi
satu
R / Aminophylin 250 mg
Ol.
Cacao qs
2. Formulasi
Dua
R / Bisakodil 5 mg
Ol. Cacao qs
Alat
dan Bahan
Alat :
1. Timbangan,
anak timbangan, p
2. Perkamen
3. Cawan
porselen
4. Sendok
tanduk
5. Sudip
6. Batang
pengaduk
7. Mortir
8. Stamper
9. Alumunium
foil
10. Serbet
11. Pencetak supositoria
Bahan :
1. Aminofillin
2. Bisakodil
3. Oleum
cacao
3.2 Perhitungan
Bahan
1. Formulasi
pertama
a. Aminophyllinum
Nilai
tukar : 0,86
·
Amino yang diperlukan = 2 x 0,25 g = 0,5 g
· Berat
suppo = 2 x 2 g = 4 g
· Nilai
tukar =
0,5 g x 0,86 = 0,43 g
· lemak
yang dibutuhkan = 4 g – 0,43g = 3.57 g
· Tambahan
lemak 10% =
10/100 x 3.57 g = 0.357 g
· Jadi,
tambahan lemak menjadi = 3.57 g + 0.357 g = 3.927 g
2. Formulasi
kedua
a. Bisakodil
Nilai tukar : 0,7
· Bisakodil
yang diperlukan = 2 x 0,005 g = 0,01 g
· Pengenceran Bisakodil :
ü Bisakodil = 50 mg
ü SL = 250 mg
ü Yang diambil = 10
mg/50 mg x 300 mg = 60 mg
ü Berat SL = 60 mg – 10 mg = 50 mg
· Berat suppo = 2 x 2 g = 4 g
· Nilai tukar = 0,01 g x 0,7 = 0,007 g
· Lemak yang dibutuhkan = 2 g – (0,007g + 0,050 g) = 3,9343
g
· Tambahan lemak 10% = 10/100 x 3,9343 g = 0,3943 g
· Jadi, tambahan lemak menjadi = 3,943 g + 0,3943 g = 4,3373 g
3.3
Cara Pemuatan
Resep 1 (Aminophyllinum)
1. Disiapkan alat, bahan dan disetarakan timbangan,
2.
Ditimbang amiophyllium 0.5 g
masukkan mortar digerus halus lalu disisihkan,
3.
Ditimbang ol.cacao 3.297 g ditimbangan kasar, lalu dileburkan diatas
penangas. Setelah melebur, diangkat,
4.
Dimasukkan aminopyllinum no.2
kedalam cawan porselen yang berisi leburan ol.cacao, diaduk ad homogen.
5.
Disiapkan cetakan
suppositoria sebelum cetakan digunkan diolesi paraffin terlebih dahulu dengan
mengnakan kuas,
6.
Dituang sediaan dalam
cetakan yang sudah siap,
7.
Ditunggu sebenter hingga
dingin kemudian dimasukkan kedalam kulkas,
8.
Disiapkan alumunium foil
sebagai pembungkus suppo, setelah suppositoria mengeras dikeluakan suppositoria
dari cetakan lalu dibungkus dengan alumunium foil.
9.
Dimasukkan dalam plastik dan
beri etiket biru.
b. Resep 2 (Bisakodil)
10. Disiapkan alat, bahan dan disetarakan timbangan,
11. Ditimbang Bisakodil dengan pengenceran (ditambahkan SL) 60 mg di
timbangan halus, lalu dituang dalam mortir, digerus halus lalu disisihkan,
12. Ditimbang ol.cacao 4,3373g ditimbangan kasar, lalu
dileburkan diatas penangas. Setelah melebur, diangkat,
13. Dimasukkan bisakodil hasil no.2 kedalam cawan porselen yang berisi
leburan ol.cacao, diaduk ad homogen.
14. Disiapkan cetakan suppositoria sebelum cetakan digunkan diolesi
paraffin terlebih dahulu dengan mengnakan
kuas,
15. Dituang sediaan dalam cetakan yang sudah siap,
16. Ditunggu sebenter hingga dingin kemudian dimasukkan kedalam
kulkas,
17. Disiapkan alumunium foil sebagai pembungkus suppo, setelah
suppositoria mengeras dikeluakan suppositoria dari cetakan lalu dibungkus
dengan alumunium foil.
18. Dimasukkan dalam plastik dan beri etiket biru.
Komentar
Posting Komentar